Rabu, 01 Agustus 2012

laporan pengawetan hewan


LAPORAN
PENGAWETAN HEWAN
( Disusun untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah Teknologi Informasi )
Dosen :














Disusun Oleh :
                                   
                                    Elgia Nurfadila A.S               ( 036111027 )
                                   
Biologi 2.A







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2012


DAFTAR ISI
















BAB I

PENADULUAN

Hewan atau disebut juga dengan binatang adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup di bumi. Sebutan lainnya adalah fauna dan margasatwa (atau satwa saja).
Hewan dalam pengertian sistematika modern mencakup hanya kelompok bersel banyak (multiselular) dan terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda (jaringan), sehingga kelompok ini disebut juga histozoa. Semua binatang heterotrof, artinya tidak membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya.








 

 

BAB II

PEMBAHASAN
A.   Pengawetan Hewan Kering

            Pengawetan hewan kering dengan cara /istilah taksidermi merupakan proses pengawetan dengan cara mengelurkan organ dalam dari hewan tersebut dan yang dibentuk adalah kulit dari hewan itu sendiri.
a)      Pengawetan Hewan Vertebrata
  1. Penangkapan/penentuan jenis hewan yang akan diawetkan. Tahapan ini terserah kepada kita, apa dan tujuan kita dengan pengawetan hewan. ini Tentunya bukan untuk eksploitasi atau tujuan yang tidak baik, kita harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip/kelestarian alam/lingkungan.
  1. Pematian Hewan. Teknik pematian hewan ini berbeda tergantung jenis hewan apa yang akan kita matikan. Dalam proses pematian ini prinsipnya darah tidak keluar dari organ tubuh, dan dipastikan benar bahwa hewan tersebut benar-benar mati. Karena jangan sampai ketikan proses pengulitan berlangsung, hewan tersebut secara fisiologis belum mati. Istilah saya untuk kejadian tersebut adalah "menjolimi".



  1. Pengulitan (Skining). Tahapan ini adalah bagaimana caranya kita melepaskan kulit yang melekat pada otot/menempel pada daging hewan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya kita harus dilengkapi dengan seperangkat alat bedah yang lengkap dan tajam sehingga proses pengulitan berjalan dengan baik (kilit terkuliti, tidak ada otot/daging yang menempel pada kulit). 
 
  1. Pengawetan Kulit (Preserving). Pengawetan kulit ini penting dilakukan karena bisa menyebabkan bau busuk bila kita tidak benar-benar memahami tahapan ini. Setelah selesai pengulitan, kita lanjutkan dengan pengawetan kulit dengan cara memberi pengawet kulit (boric acid) yang ditaburkan ke seluruh kulit yang dikuliti (bagian dalam). Setelah itu untuk beberapa hari dikeringkan. Lama pengeringan tergantung jenis hewannya.

A.    Pengawetan Hewan Avertebrata


1.      Pengawetan hewan avertebrata bertujuan untuk mempermudah pemahaman morfologi, anatomi, anatomi dan sistematika hewan avertebrata dengan membuat media pendidikan sendiri.
Tahap-tahap pengawetan hewan avertebrata, yaitu :

1. kegiatan mematikan hewan

Yaitu dengan cara memasukkan hewan avertebrata ke dalam larutan pembunuh seperti alkohol pekat atau larutan formalin 3%. Pada hewan yang melakukan gerakan-gerakan yang kuat sebaiknya tidak langsung dimatikan tapi dilakukan anastesi dahulu. Untuk melakukan anastesi dapat dilakukan dengan menggunakan zat-zat sebagai berikut :
a. menthol, dengan cara menaburkan kristal-kristal menthol pada permukaan air tempat hewan tersebut mengembang.
b. Magnesium sulfat, kristal magnesium langsung ditaburkan pada permukaan hewan yang masih basah.
c. magnesium chlorida, larutan chlorida 7,5% (dilarutkan air yang telah mendidih) kemudian hewan seperti plankton dimasukkan ke dalam larutan tersebut selama 30 detik.
d. chloral hydrate, digunakan untuk melakukan anastesi hewan air tawar
e. propylene phenoxetol, dengan cara merendam hewan-hewan yang mau dianastesi lalu ditetesi larutan propylene phenoxetol yang kadarnya tidak melebihi 1%.
f. ethyl alcohol, untuk anastesi hewan air tawar dengan kadar 10%.

2. fiksasi
Fiksasi adalah suatu proses yang menstabilkan protein penyusun jaringan, sehingga setelah hewan mati jaringan masih tetap seperti kondisi hewan masih hidup. Zat kimia yang umum digunakan untuk fiksasi adalah formaldehyde, ethanol, asam asetat.

3. Pengawetan.
Hewan yang telah diawetkan disebut spesimen tidak akan mengalami pengkerutan atau rusaknya penyusunnya karena terbebas dari bakteri dan jamur.
Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering. untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. Awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4%.

 

B.     Pengawetan Hewan Bioplastik


            Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media/alat, baik itu untuk kepentingan pendidikan atau komersial tertentu ataupun tujuan tertentu

Teknik pengawetan hewan/tumbuhan dengan Bioplastik ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : Kuat dan tahan lama, murah, menarik dan praktis dalam penyimpanan. Tapi teknik ini juga memiliki kelemahan yaitu objek asli tidak bisa disentuh/diraba (karena observasi hanya mengandalkan penglihatan saja).

Pengawetan dengan menggunakan poliester resin ini dapat dilakukan pada bahan segar, awetan kering, dan atau awetan basah. Pengawetan ini bisa untuk mengamati aspek morfologi, anatomi, jaringan, perbandingan, atau siklus hidupnya.

Dalam proses belajar mengajar media/alat peraga merupakan suatu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan. Peranan media/alat peraga adalah untuk membantu memperjelas hal-hal yang abstrak, mengatasi masalah ruang dan waktu, membuat pembelajaran lebih menarik dan memperjelas konsep. Dalam pembelajaran biologi, meda/alat peraga sangat dibutuhkan berbagai media awetan yang cukup representative untuk memperlancar proses belajar mengajar.
“BioPlastik” adalah media/alat peraga IPA-Biologi dalam bentuk awetan tumbuhan maupun hewan yang dimasukan kedalam blok resin bening. Metode pengawetan tumbuhan dan hewan dengan “BioPlastik” ini sangat penting dikarenakan keberadaan spesimen yang di awetkan di alam sangat terbatas dan hanya berada pada tempat-tempat tertentu saja, juga kemelimpahannya sangat tergantung pada kondisi musim yang mana kebanyakan dari spesimen yang di awetkan ini hanya pada musim-musim tertentu saja dapat ditemukan dalam jumlah melimpah di alam.
Metode pengawetan tumbuhan dan hewan dengan “BioPlastik” kami pikir merupakan metode pengawetan terbaik dibanding dengan metode-metode pengawetan yang pernah ada sebelumnya seperti awetan kering (herbarium) maupun awetan basah dengan menggunakan cairan pengawet tertentu yang di simpan di dalam botol. Dengan metode pengawetan “BioPlastik”, spesimen yang diawetkan dapat dilihat dan diamati secara tiga dimensi tanpa merubah struktur dan warna asli dari spesimen. Ukurannya yang asli, bentuknya yang cenderung tidak berubah (tergantung dari proses preparasi yang dilakukan sebelum dimasukan ke dalam resin) dan daya tahannya yang relatif sangat lama (lebih dari 25 tahun) adalah kelebihan lain dari metode pengawetan “BioPlastik” ini.
Pemilihan spesimen yang refresentatif untuk menunjang proses pembelajaran biologi sudah jadi langkah pokok sebelum melakukan pengawetan, sehingga “BioPlastik” sebagai media/alat peraga dapat membantu proses pembelajaran siswa. Untuk melihat tumbuhan dan hewan apa saja yang sudah ada dalam bentuk awetan “BioPlastik” silahkan klik disini. “BioPlastik” apa saja yang anda butuhkan? Silahkan hubungi kami SEKARANG untuk melakukan pemesanan!!!


“BioPlastik” dalam kondisi lingkungan sekolah yang sukar untuk menemukan spesimen yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran maka “BioPlastik” akan menjadi media utama, sedangkan dalam kondisi dimana spesimen disekitar lingkungan sekolah dapat ditemukan dengan mudah maka “BioPlastik akan menjadi media pelengkap. Penggunaan “BioPlastik” sangatlah fleksibel tergantung situasai dan kondisi di sekolahnya.
Pengambilan spesimen dari lapangan untuk dijadikan media/alat peraga “BioPlastik”, diupayakan agar seminimal mungkin tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. Spesimen di diambil dari alam pada tempat yang melimpah, pada musim-musim yang tepat dan untuk menjaga kelestariannya dilakukan penyebaran pada tempat-tempat lain yang cocok untuk pertumbuhannnya. Dengan adanya “BioPlastik” sebagai media/alat peraga pembelajaran diharapkan akan dapat dihindarinya pengambilan spesimen di alam secara berlebihan.
“Bioplastik” sebagai medai/alat peraga ini dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran keanekaragaman hayati, klasifikasi tumbuhan/hewan, ekosistem dan komponennya. Penggunaan “Bioplastik” merupakan investasi alat peraga pendidikan yang sangat murah karena cukup sekali dalam pengadaannya, akan tetapi dapat digunakan berkali-kali secara tidak terbatas untuk digunakan dalam waktu yang sangat lama. Produk “BioPlastik” ini dilengkapi dengan:
·                 skala yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam memperkirakan ukuran spesimen,
·                 deskripsi habitat untuk memberikan petunjuk lokasi tempat hidup spesimen di lapangan
·                 kunci determinasi untuk menemukan nama specimen pada taksa genus berdasarkan ciri morfologi
·                 deskripsi genus berdasarkan ciri-ciri morfologi.
"BioPlastik" yang kami produksi, dibuat dan dilengkapi dengan kemasan yang praktis dalam penggunaannya dan aman dalam penyimpanannya. Kemasan yang kami pakai, selain kemasan dalam berupa dus dari bahan karton tebal dan di berikan pelindung dengan plastik bubble pack, juga di kemas dalam sebuah kotak kayu yang terbuat dari bahan kayu keras.
Setelah "BioPlastik" di gunakan, dapat di masukan kembali ke dalam kemasannya dan di simpan di dalam lemari penyimpanan bersama perlengkapan laboratorium sekolah yang lainnya. Hendaknya saat "BioPlastik" digunakan, hindari dari kontak dengan sinar matahari langsung untuk menghindari kerusakan spesimen yang ada di dalamnya, juga penggunaan secara hati-hati akan menghindari resiko "BioPlastik" terjatuh ke lantai yang mungkin akan menyebabkan "BioPlastik" retak atau pecah. Selain itu, hindari juga jangan sampai terkena ciran pelarut organik yang akan menyebabkan kerusakan. Dalam kondisi yang tidak bisa di hindari seperti karena penggunaannya yang terlalu sering dan menyebabkan bagian permukaannya menjadi buram atau tergores, maka untuk mengkilapkannya gunakan kain lembut yang sudah diberikan bahan pengkilap seperti kit, sanpoly atau coumpon. 


Alat dan Bahan yang Diperlukan

  1. Cetakan dari bahan stainles atau permukaan halus dan kuat, misalnya kaleng wadah bekas, tatakan.
  2. Gelas pengaduk dari plastik dan sendok pengaduknya
  3. Girinda dengan batunya/amplas dari nomor 100 sampai 1500
  4. Poliester resin
  5. Katalis (etil metil keton peroksid 50%)
  6. Styren
  7. Pengkilat permukaan (kit)
  8. Braso/san poly, pengkilap logam
  9. Compound kuning
  10. Kain halus
  11. Kikir tangan
  12. Detergen
  13. Bahan-bahan yang akan diawetkan dari hewan atau tumbuhan atau objek lainnya.
Cara Kerja

A. Persiapan 

Menentukkan bahan yang akan diawetkan (tumbuhan/hewan), kalau tumbuhan ada proses pengeringan, dan kalau hewan ada proses pematian spesimen serta pengeringan.
  1. Mematikan Spesimen
  2. Pengeringan Spesimen
  3. Pembuatan Label
  4. Pembuatan Cetakan
  5. Bahan/spesimen yang akan diawetkan, dipilih bentuk dan ukurannya
BPenanaman dengan Resin (..B)
C. Penghalusan dan Pengkilapan

B.       Awetan pada hewan
Berikut ini langkah-langkah membuat awetan basah.
a.       Siapkan spesimen yang akan diawetkan.
b.      Sediakan formalin yang telah diencerkan sesuai dengan keinginan.
c.       Masukkan spesimen pada larutan formalin yang telah ada dalam botol jam dan telah diencerkan.
d.      Tutup rapat botol dan kemudian diberi label yang berisi nama spesimen tersebut dan familinya.

. Koleksi dan Pembuatan Awetan
  Pada objek kita dapat menggali gejala-gejala, menemukan  masalah dan memecahkannya.
Namun tidak semua objek dengan mudah kita temukan di sekitar kita. Untuk objek tumbuhan
atau hewan yang cukup langka, atau habitatnya jauh (misal di pantai), maka dibutuhkan suatu
koleksi awetan. 
Untuk koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya, pengawetan dan 
penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula kelestarian objek tersebut. Perlu
ada pembatasan pengambilan objek. Salah  satunya dengan cara  pembuatan awetan.
Pengawetan dapat dilakukan terhadap objek tumbuhan maupun hewan. Pengawetan dapat
dengan cara basah  ataupun kering. Cara dan bahan pengawet nya bervariasi, tergantung sifat
objeknya. 
Untuk organ tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan dengan awetan
basah. Sedang untuk daun,  batang dan akarnya, umumnya dengan  awetan kering berupa
herbarium. Demikian halnya untuk pengawetan  hewan. Hewan  dapat diawetkan dengan
cara kering ataupun basah. Macam-macam serangga  dapat diawetkan cara kering disebut
insektarium. Awetan kering  untuk burung disebut  taksidermi. Pengawetan juga dapat
dilakukan terhadap hewan-hewan Avertebrata lainnya. Bagaimana c cara pembuatan awetan ? 
1. Pembuatan Preparat Sayatan
Untuk membuat preparat sayatan mikroskopis, lakukanlah lakah-langkah berikut :
(1) Siapkan gelas benda datar dan kaca penutupnya yang bersih.
(2) Ambil lapisan terluar bawang merah yang segar . 
(3) Pada posisi melintang, patahkan lapisan bawah tersebut
(4) Dengan pinset, ambilah lapisan tipis bagian terluarnya (berwarna ungu).
(5) Tempatkan sayatan tersebut pada gelas benda. 
                                               
1
 Materi disampaikan pada kegiatan pelatihan pembuatan media specimen awetan bagi guru-guru Biol Macam Larutan Pengawet 
      Larutan pengawet umum : 
(1) 1 liter Akuades
(2) 25 ml formalin 4 % 
(3) 1 ml asam cuka 40 % 
(4) 15 ml terusi (cuprisulfat)
(a) Larutan alternatif :
(1) 90 ml alcohol 50 %
(2) 5 ml formalin 4 %
(3) 2,5 ml gliserin
(b) Larutan pengawet untuk bunga :
(1) 9 bagian  alkohol 70 %
(2) 0,5 bagian  formalin 4 %
(3) 0,5 bagian asam cuka  atau asam asetat
   c) Cara pembuatannya
(1) Berikan etiket gantung pada objek tumbuhan yang akan dibuat herbarium 
(2) Bungkus tumbuhan dengan kertas kora dan atur posisi  akar, batang dan daunnya. Sebagian daun menengadah dan sebagian lainnya telungkup

1 komentar:

  1. Bisa minta tolong, saya peternak tikus putih, butuh mengawetkan tikus putih (siklus)dari lahir sampai tua sekitar 5-6 ekor,x2 jantan betina jadi total 10-12ekor yang diawetkan, inginnya sih sejajar jadi seperti evolusi gitu. dengan resin, tapi saya gak tau caranya yang benar, saya juga kuliah di unpak fmipa ilkom ekstensi, tolong ya jika berminat bantu sms ke Ais.085714816726 utk bahan pembuatan biayanya saya yang tanggung. thx.

    BalasHapus